Join Ardo's empire
Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Harimau Sang Penolong

Hari kian panas. Penguasa hutan sedang beristirahat di bawah pohon rindang untuk melepas lelah. Setelah perjalanan jauh mencari makan.

Bentuk matanya yang tajam, wajahnya yang sangar seakan ingin menerkam. Siapa mengira bahwa harimau ini memiliki sifat penyayang dan pelindung terhadap binatang-binatang lemah yang ada di hutan ini.

Kisah Istana Tiga Putri



Ada tiga orang putri kakak - beradik. Entah mengapa putri sulung sangat benci kepada putri bungsu. Ketika dewasa ketiga putri ini menikah dengan tiga saudagar. Ketiganya memiliki istana dan masing-masing hidup dengan kekayaan yang mereka peroleh dari suami mereka.

Di awal pernikahan, putri sulung memiliki istana paling megah dan kekayaan terbesar. Putri kedua memiliki istana yang sedang dan kekayaan yang cukup. Sementara putri bungsu memiliki istana terkecil dan kekayaan seadanya. Putri bungsu tidak pernah mengeluh,

Si Belang Sang Pemburu Takhta



Alkisah disebuah Kerajaan Wana gung liwang liwung. Sang Raja Hutan sedang termenung memikirkan siapa yang layak menggantikan dirinya duduk di singgasana yang sebentar lagi akan ditinggalkannya. Meski tidak rela takhta itu dilengserkan kepada penggantinya, namun karena terhalang oleh peraturan, maka beliau terpaksa harus lengser keprabon. Lebih khawatir lagi jika penggantinya kelak tidak sekualitas beliau. Itulah yang menjadi alasan kegalauan beliau.

*****

Disuatu tempat dibawah pohon rindang, Si Belang sedang berbincang hangat dengan sesama hewan buas lainnya. Membicarakan tentang siapa yang pantas dan layak menggantikan Sang Raja Hutan tua, yang tak lama lagi akan meyerahkan kursi gadhing dhampar kencananya itu.

“Bagaimana, kalau saya yang menjadi raja hutan, dan engkau sebagai patih” ujar si Beruang pada si Belang.

Kisah Negeri Tanah Surga



Pada suatu masa hiduplah satu bangsa di suatu wilayah kepualauan. Penduduknya hidup dengan aman, nyaman, tentram, adem- ayem. Mereka saling sayang menyayangi, saling menghormati, saling tenggang rasa, saling empati satu sama lainnya, tanpa pamrih dan tanpa maksud-maksud tersembunyi. Kegemaran mereka ialah bergotong-royong. Tidak ada yang menganggap dirinya atau kelompoknya lebih super dari yang lain. Sebaliknya, semua merasa setara, duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Penduduk negeri itu jauh pula dari usaha mengkotak-kotakkan diri, meski menyadari ada perbedaan diantara mereka sendiri-sendiri. Bagaikan pelangi, perbedaan itu memperindah penampilan mereka di mata bangsa lain. Perbedaan-perbedaan di antara penduduk negeri yang besar itu adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, yang membuat iri bangsa-bangsa tetangga.

Kepiting yang Baik Hati


Alkisah, dalam sejarah perbinatangan, kepiting sering dijuluki binatang yang suka sekali menggigit binatang lain. Akibatnya, kepiting sering dijauhi oleh binatang lainnya. Hal ini bukan tidak diketahui kepiting. Dia paham benar dengan sikap binatang lainnya.Mereka sering mencibirkan bibir manakala berjumpa darat dengan kepiting. “Ah, ini lagi dia, suka menggigit, tetapi tidak mau digigit”, gumam si udang sekali waktu.

Thomas dan Sapi Berjenggot



Di sebuah desa yang subur dan kaya akan hasil alamnya, hidup seorang pengembala bernama Thomas. Ia tinggal disebuah gubuk tua yang terbuat dari bilik bambu. Thomas tinggal seorang diri, ayah dan ibunya sudah lama meninggal dunia. Satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah seekor sapi jantan berjenggot. Sapi berjenggot itu sudah dipeliharanya sejak kecil dan kemanapun Thomas pergi, sapi itu selalu dibawanya.

Sehari-hari Thomas bekerja di peternakan sapi milik Paman Ronald. Ia bertugas memberi makan, memandikan, dan memelihara sapi-sapi. Jika sedang mengurus sapi-sapi tersebut, Thomas mengikat sapi berjenggotnya di pohon sebelah kandang. Thomas sangat bersyukur bisa bekerja di pertenakan Paman Ronald, selain karena ia bisa mendapatkan uang, ia tidak perlu repot mencari makanan untuk sapinya lagi karena Paman Ronald memiliki banyak persediaan rumput.

Tuhan Telah Menjadikan Aku Boneka dan Bukan Manusia



Tuhan…

Aku sungguh takut hidup di dunia ini,melebihi rasa takutku jika hidup di akherat nanti.Aku benar-benar takut Tuhan.Banyak masalah yang sedang kuhadapi dan kurasakan sangat berat.Sepertinya aku sudah tak kuat lagi .Aku ingin segera bisa menghilang dari dunia ini Tuhan,aku ingin mati.Agar otakku juga mati.Kuyakini dengan otak yang mati aku tak lagi teringat semua masalah yang sedang kuhadapi.Dan lagi ,aku ingin rasa hatiku ini juga mati,supaya aku tak disiksa dari perasaanku sendiri.Dari perasaan bersalah,menyesal,merasa tak berharga,merasa malu yang mendalam sebab banyaknya kekurangan dari dalam diri ini.

Aku tak tau,dimana tempat pelarian yang pantas untukku Tuhan…

Kisah Purbowo Si Penggali Kubur




Alkisah di sebuah kampung bernama Desa Masi, tinggallah seorang jawara yang sangat ditakuti bernama Purbowo. Badannya tegap berotot, suaranya berat, wajahnya dingin menakutkan. Siapapun yang bertemu dengannya tidak akan memiliki keberanian, bahkan hanya untuk menatap wajahnya sekalipun.

Sejatinya, Purbowo adalah anak tokoh terhormat di Desa itu, tetapi entah mengapa ia terjerat kehidupan jawara yang penuh dengan kekerasan. Emosinya yang tidak stabil mebuatnya mudah marah kepada orang-orang yang tidak dikehendakinya. Setiap ada keributan di Desa, selalu melibatkan dirinya. Sampai suatu ketika, Purbowo mengalami titik balik dalam hidupnya. Entah angin apa yang membuatnya ingin berhenti menjadi jawara dan segera mencari pekerjaan apa saja untuk menghidupi dirinya secara normal.

Kisah si Elang Merah

Nun jauh di negeri dongeng, terdapat sebuah wilayah dimana tinggal sekelompok besar burung elang. Burung-burung elang ini tinggal di sekitar gunung yang sangat tinggi. Di sebelah utara, barat, dan timur gunung itu adalah hutan yang sangat lebat, sedangkang sisi selatan gunung merupakan tebing terjal dan sangat curam yang langsung berbatasan dengan laut samudera yang luas.
 
Di negeri elang ini terdapat sebuah sekolah yang mengajarkan elang-elang muda untuk menjadi rajanya langit dan ahli dalam berburu mangsa. Di sekolah ini, mereka diajari cara terbang yang baik, cara menerkam mangsa, cara menghadapi ular, dan berbagai macam strategi dalam berburu.
Sekolah elang ini juga memiliki jenjangnya masing-masing dan tingkat tertinggi adalah tingkat perguruan tinggi. Di tingkat yang terakhir ini, semua elang akan diajari semua teknik untuk bertahan hidup dan mencari mangsa dengan baik, jadi diharapkan ketika para elang telah lulus perguruan tinggi akan dapat mencari makanannya sendiri tanpa bergantung kepada orang tua lagi dan juga membina keluarga baru.
Setiap tahun, diadakan pertandingan jago ketangkasan antar elang dari wilayah yang berbeda-beda. Pertandingan ini sendiri sangatlah prestisius sehingga banyak elang yang ingin ikut serta tapi sayang yang terpilih hanya sedikit.
Para guru elang telah mengadakan rapat tertutup dan akhirnya menentukan 3 nama elang yang akan mewakili kerajaan elang gunung besar ini. Ketiga elang itu adalah Elang Putih, Elang Merah, dan Elang Biru. Mereka dipilih oleh para guru karena selama bersekolah, ketiga elang inilah yang menunjukkan performansi di atas rata-rata teman-teman mereka. Satu hal yang unik, ketiga elang ini merupakan teman baik dan sangat kompak. Tetapi persaingan ini membuat mereka saling berteman dan sekaligus bermusuhan
Ketiga elang terpilih ini memiliki keunggulannya masing-masing. Elang Merah sangat terkenal dengan kejeniusannya. Ia adalah elang yang sangat pintar. Urusan atur mengatur strategi, persiapan perburuan dan setiap detilnya akan diperhitungkannya dengan tepat. Dari segi otak, memang elang ini jauh diantara temannya, tetapi si Elang Merah ini memiliki kelemahan. Ia lebih suka bekerja sendiri, memang agak pendiam, tetapi dia cukup ramah. Ia agak sukar beradaptasi dengan lingkungan pertemanan yang baru, sehingga ia tidak suka mengikuti organisasi-organisasi elang yang ada di sekolah.
Elang Putih sangat terkenal dengan ambisinya untuk selalu eksis dalam hal apapun. Elang Putih ini memang tidak terlalu menonjol dalam hal-hal yang mendetail dalam perburuan seperti Elang Merah dan tidak terlalu pintar, tetapi ia memiliki kemampuan komukinasi yang baik. Ia sangat ahli dalam berdiplomasi dan pandai berbicara. Oleh karena itu, ia terkenal elang yang sangat aktif di sekolah elang. Menjadi ketua berbagai organisasi dan beberapa kali menjadi pembawa acara di sekolah.
Diantara si Elang Merah dan Elang Putih, mungkin Elang Biru yang kemampuannya agak lebih seimbang. Si Elang Biru ini juga pintar, walaupun tidak sepintar si Elang Merah, dan juga aktif dalam organisasi, walaupun tidak seaktif Elang Biru. Bisa dibilang, kemampuan Elang Biru ini adalah gabungan Elang Merah dan Elang Putih tetapi memiliki kelemahan yang sangat mengganggu, yaitu egois. Ada yang bilang, kadang-kadang si Elang Biru ini tidak berperasaan, karena ia tidak akan memperdulikan apapun, bahkan teman dekatnya sekalipun, asalkan posisinya tidak terancam dan senang.
Berbagai persiapan sebelum pertandingan telah dilakukan, termasuk belajar bahasa elang yang universal. Karena pertandingan diadakan di luar daerah, sehingga penguasaan bahasa elang universal ini sangatlah penting. Seminggu sebelum tes bahasa ini, para guru dan pendamping telah mengingatkan ketiga elang itu untuk belajar karena hasil tes ini nantinya kan menjadi seleksi awal kelayakan untuk mengikuti pertandingan di luar negeri. Mulai detik itu persaingan semakin terasa, karena hanya satu elang yang akan mewakili kerajaan elang gunung besar ini ke luar daerah.
Sehari sebelum tes bahasa, Elang Merah mendapat kabar kalau namanya tidak terdaftar sebagai peserta tes. Hanya Elang Putih dan Biru yang mendapatkan undangan. Tanpa alasan yang jelas, si Elang Merah didepak dari nominasi ketiga wakil tersebut.

Si Elang Merah sangat kesal dan benci kepada para guru di perguruan tinggi kerena telah memperlakukannya dengan sangat keji. Di tengah segala mimpi indahnya untuk ikut dalam pertandingan di luar daerah, dengan alasan yang tidak jelas ia dikeluarkan, dan meruntuhkan segala mimpi indahnya. Si Elang Merah tidak habis pikir betapa tega gurunya memperlakukan ia seperti itu, seakan-akan ia adalah elang tak berguna, elang cadangan yang bisa dibuang seandainya tidak diperlukan lagi.
Si Elang Merah sangat marah dan sangat kesal bercampur benci. Tetapi ia sadar tidak ada gunanya membenci. Ia berjanji akan tetap menjaga persahabatannya dengan Elang Putih dan Biru, dan belajar untuk memaafkan tindakan aneh dan tidak berperasaan gurunya. Untuk menguatkan dirinya sendiri ia berkata dan menuliskannya, “Aku berjanji, aku akan menunjukkan kepada kalian aku tidak lemah dan aku BISA!”.

* Terinspirasi dari kisah nyata seorang manusia

 kompasiana.com