Join Ardo's empire
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Harimau Sang Penolong

Hari kian panas. Penguasa hutan sedang beristirahat di bawah pohon rindang untuk melepas lelah. Setelah perjalanan jauh mencari makan.

Bentuk matanya yang tajam, wajahnya yang sangar seakan ingin menerkam. Siapa mengira bahwa harimau ini memiliki sifat penyayang dan pelindung terhadap binatang-binatang lemah yang ada di hutan ini.

Kisah Pak Robocop

ROBOCOP adalah polisi cyborg. Dia adalah lulusan AKPOL (akademi polisi longor)* angkatan 1987. Siapa dia sebenarnya masih menjadi misteri. Banyak rumor mengatakan bahwa dia adalah ronaldo brazil, Dedy Corbuzier, Ipin Upin, entah Opie Kumis atau Pak Ogah, tapi yang jelas si robocop itu adalah bapakmu bhhahaha.

Sejak kecil dia hobinya main robot-robotan, nyolong mainan robot, cabe-cabean sama robot& yg paling sering adalah dikejar robot gedek. Dia pernah masuk pesantren namun malah menjadi satpam, pernah melamar jadi gadget namun menjadi HP china, pernah melamar di minimarket dan menjadi mesin kasir, dan ke indonesianidol malah menjadi Husein alatas.

Kisah Istana Tiga Putri



Ada tiga orang putri kakak - beradik. Entah mengapa putri sulung sangat benci kepada putri bungsu. Ketika dewasa ketiga putri ini menikah dengan tiga saudagar. Ketiganya memiliki istana dan masing-masing hidup dengan kekayaan yang mereka peroleh dari suami mereka.

Di awal pernikahan, putri sulung memiliki istana paling megah dan kekayaan terbesar. Putri kedua memiliki istana yang sedang dan kekayaan yang cukup. Sementara putri bungsu memiliki istana terkecil dan kekayaan seadanya. Putri bungsu tidak pernah mengeluh,

Si Belang Sang Pemburu Takhta



Alkisah disebuah Kerajaan Wana gung liwang liwung. Sang Raja Hutan sedang termenung memikirkan siapa yang layak menggantikan dirinya duduk di singgasana yang sebentar lagi akan ditinggalkannya. Meski tidak rela takhta itu dilengserkan kepada penggantinya, namun karena terhalang oleh peraturan, maka beliau terpaksa harus lengser keprabon. Lebih khawatir lagi jika penggantinya kelak tidak sekualitas beliau. Itulah yang menjadi alasan kegalauan beliau.

*****

Disuatu tempat dibawah pohon rindang, Si Belang sedang berbincang hangat dengan sesama hewan buas lainnya. Membicarakan tentang siapa yang pantas dan layak menggantikan Sang Raja Hutan tua, yang tak lama lagi akan meyerahkan kursi gadhing dhampar kencananya itu.

“Bagaimana, kalau saya yang menjadi raja hutan, dan engkau sebagai patih” ujar si Beruang pada si Belang.

Kisah Negeri Tanah Surga



Pada suatu masa hiduplah satu bangsa di suatu wilayah kepualauan. Penduduknya hidup dengan aman, nyaman, tentram, adem- ayem. Mereka saling sayang menyayangi, saling menghormati, saling tenggang rasa, saling empati satu sama lainnya, tanpa pamrih dan tanpa maksud-maksud tersembunyi. Kegemaran mereka ialah bergotong-royong. Tidak ada yang menganggap dirinya atau kelompoknya lebih super dari yang lain. Sebaliknya, semua merasa setara, duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Penduduk negeri itu jauh pula dari usaha mengkotak-kotakkan diri, meski menyadari ada perbedaan diantara mereka sendiri-sendiri. Bagaikan pelangi, perbedaan itu memperindah penampilan mereka di mata bangsa lain. Perbedaan-perbedaan di antara penduduk negeri yang besar itu adalah kekayaan yang tak ternilai harganya, yang membuat iri bangsa-bangsa tetangga.

Kepiting yang Baik Hati


Alkisah, dalam sejarah perbinatangan, kepiting sering dijuluki binatang yang suka sekali menggigit binatang lain. Akibatnya, kepiting sering dijauhi oleh binatang lainnya. Hal ini bukan tidak diketahui kepiting. Dia paham benar dengan sikap binatang lainnya.Mereka sering mencibirkan bibir manakala berjumpa darat dengan kepiting. “Ah, ini lagi dia, suka menggigit, tetapi tidak mau digigit”, gumam si udang sekali waktu.

Thomas dan Sapi Berjenggot



Di sebuah desa yang subur dan kaya akan hasil alamnya, hidup seorang pengembala bernama Thomas. Ia tinggal disebuah gubuk tua yang terbuat dari bilik bambu. Thomas tinggal seorang diri, ayah dan ibunya sudah lama meninggal dunia. Satu-satunya keluarga yang ia miliki hanyalah seekor sapi jantan berjenggot. Sapi berjenggot itu sudah dipeliharanya sejak kecil dan kemanapun Thomas pergi, sapi itu selalu dibawanya.

Sehari-hari Thomas bekerja di peternakan sapi milik Paman Ronald. Ia bertugas memberi makan, memandikan, dan memelihara sapi-sapi. Jika sedang mengurus sapi-sapi tersebut, Thomas mengikat sapi berjenggotnya di pohon sebelah kandang. Thomas sangat bersyukur bisa bekerja di pertenakan Paman Ronald, selain karena ia bisa mendapatkan uang, ia tidak perlu repot mencari makanan untuk sapinya lagi karena Paman Ronald memiliki banyak persediaan rumput.

Arti Sebuah Kesetiaan


1405574579588670577








Kesetiaan adalah kesempurnaan



Ini adalah kisah seseorang yg ingin menciri kesempurnaan dalam kehidupanya , iya adalah seorang laki laki sangat tampan , kaya , dan dia adalah idaman semua wanita . Wanita yang ingin dicarinya adalah wanita Cantik dan sempurna dan juga wanita sempurna itu akan dijadikan jodohnya. Dia mencari wanita itu sampai ke pelosok tapi tak seorangpun wanita yg sempurna ditemuinya , dan pada suatu hari dia pergi ke sebuah desa yg pemandanganya sangat indah ,

Tuhan Telah Menjadikan Aku Boneka dan Bukan Manusia



Tuhan…

Aku sungguh takut hidup di dunia ini,melebihi rasa takutku jika hidup di akherat nanti.Aku benar-benar takut Tuhan.Banyak masalah yang sedang kuhadapi dan kurasakan sangat berat.Sepertinya aku sudah tak kuat lagi .Aku ingin segera bisa menghilang dari dunia ini Tuhan,aku ingin mati.Agar otakku juga mati.Kuyakini dengan otak yang mati aku tak lagi teringat semua masalah yang sedang kuhadapi.Dan lagi ,aku ingin rasa hatiku ini juga mati,supaya aku tak disiksa dari perasaanku sendiri.Dari perasaan bersalah,menyesal,merasa tak berharga,merasa malu yang mendalam sebab banyaknya kekurangan dari dalam diri ini.

Aku tak tau,dimana tempat pelarian yang pantas untukku Tuhan…

Kisah Purbowo Si Penggali Kubur




Alkisah di sebuah kampung bernama Desa Masi, tinggallah seorang jawara yang sangat ditakuti bernama Purbowo. Badannya tegap berotot, suaranya berat, wajahnya dingin menakutkan. Siapapun yang bertemu dengannya tidak akan memiliki keberanian, bahkan hanya untuk menatap wajahnya sekalipun.

Sejatinya, Purbowo adalah anak tokoh terhormat di Desa itu, tetapi entah mengapa ia terjerat kehidupan jawara yang penuh dengan kekerasan. Emosinya yang tidak stabil mebuatnya mudah marah kepada orang-orang yang tidak dikehendakinya. Setiap ada keributan di Desa, selalu melibatkan dirinya. Sampai suatu ketika, Purbowo mengalami titik balik dalam hidupnya. Entah angin apa yang membuatnya ingin berhenti menjadi jawara dan segera mencari pekerjaan apa saja untuk menghidupi dirinya secara normal.

Mimpi Seorang Maling

Temaram lampu berwarna biru senyap itu menderu menggrayangi mata Susito. Dalam ruangan berukuran 2×3 meter itu terdapat sebonggol kepala yang dibungkus rambut tipis lumayan panjang. Giginya kuning tua bergaris-garis seperti warna seng yang berkarat. Kepulan asap rokok yang tak dimatikan dengan sempurna itu seperti dengusan asap naga yang baru saja selesai memantikkan api. Mungkin ia tergesa-gesa waktu mematikannya ke dalam asbak batok kelapa coklat itu, berserabut, serabut yang bergelombang. Sesosok lelaki buta warna itu memiliki nyawa, dan jiwa yang panas, tapi terkadang merintih kesakitan terhimpit jaman yang semakin dingin, sinis, dan angkuh.

Selembut Angin Senja di Juhu

“Sudah siap?” tanya Hendro pada Utari.

“Sudah Mas. Berangkat sekarang?” tanya Utari sambil membetulkan hijabnya. Menyematkan bross berbentuk bunga krisan di bahu kirinya lalu memeriksa lagi riasan wajahnya.

“Iya, sekarang aja Jeng. Hari ini hari Holi. Jalanan Mumbay akan sangat padat. Kalau tak berangkat pagi, kita akan terjebak lautan manusia yang memenuhi jalan. Ayo! Udah cantik kok.”

Hendro kemudian meraih tangan Utari dan menggenggamnya erat. Dipandangnya pantulan wajah mereka di cermin. Istrinya memang masih nampak pucat akibat sakit beberapa bulan lalu. Tapi wajahnya sudah mulai bersinar kembali. Kasih sayang dan perhatian Hendro padanya rupanya menjadi penyemangat untuk segera sembuh dan melanjutkan hidup.

Nabang Si Penunggang Paus

Pada suatu masa saat pulau Andalas dipimpin oleh Sultan Alam, datanglah raja dari Negeri Penyu bernama Si Meulu, menjumpai Sultan Alam, “Sultan Alam yang perkasa, hamba datang ke isatana tuan untuk mengadukan permasalahan yang sedang kami hadapi”, jelas Raja penyu Si Meulu dengan air mata berlinang.
“Wahai Raja Penyu sahabatku sampaikanlah apa yang menyebabkan engkau gelisah dan bersedih“, pinta Sultan Alam.
“Negeri hamba, pulau penyu, sudah tidak aman lagi, seekor naga raksasa bernama Smong telah menyerang dan membunuh rakyat hamba, setiap hari ada korban yang jatuh, sebagian rakyat hamba sudah mengungsi kepenjuru dunia karena khawatir akan dimangsa oleh Smong si naga raksasa itu”, jelas Raja Penyu sambil menangis.
Sultan Alam terpukul mendengar penderitaan rakyat dari kerajaan penyu, beliau sangat sedih atas kejadian tersebut. “ Sahabatku, aku akan membantu Kerajaan Penyu mengusir naga Smong tersebut”, janji Sultan Alam dengan suara bergetar.

Legenda Telaga Bidadari

Telaga itu tidak seberapa lebar dan dalam, kurang lebih tiga meter panjangnya dan dua meter lebarnya dengan kedalaman dua meter. Airnya Bening dan jernih, tidak pernah kering walau kemarau panjang sekalipun. Letaknya di atas sebuah pematang, di bawah keteduhan, kelebatan, dan kerindangan pepohonan, khususnya pohon limau. Jika pohon-pohon limau itu berbunga, berkerumunlah burung-burung dan serangga mengisap madu. Di permukaan tanah itu menjalar dengan suburnya sejenis tumbuhan, gadung namanya. Gadung mempunyai umbi yang besar dan dapat dibuat menjadi kerupuk yang gurih dan enak rasanya. Akan tetapi, jika kurang mahir mengolah bisa menjadi racun bagi orang yang memakannya karena memabukkan.

KUPU – KUPU SENJA

Hidup itu seperti roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Hidup itu penuh cobaan dan tantangan. Tidak tahu kapan dia datang dan pergi. Hidup itu penuh misteri. Tidak bisa diprediksi dan diramalkan. Hidup itu penuh dengan ego manusia. Tetapi, semua harus disyukuri karena hidup hanya sekali.




Pagi itu seperti biasa keluarga Hermawan melakukan aktivitasnya masing-masing. Kedua putrinya tampak bersiap – siap untuk sekolah. Sang istri sibuk menyiapkan sarapan pagi. Sedangkan sopirnya sibuk mengelap mobil untuk mengantar sang anak majikannya ke sekolah. Suasana yang selalu terjadi di pagi hari. Keluarga Hermawan sangat tersohor dan disegani oleh semua orang. Walaupun terlahir di keluarga pengusaha yang sukses dan terpandang, tidak membuat mereka tinggi hati dan angkuh. Melainnkan sebaliknya, mereka tidak pernah memandang rendah seseorang karena pebedaan status social mupun materi. Semua orang kagum dan menghormati mereka. Anak pertama mereka bernama Mia. Mia anak yang cerdas, cantik, dan baik. Semua orang segan kepadanya. Anaknya yang kedua bernama Chika. Masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Chika anak yang periang.
“Mia, Chika, cepat sarapan!” Teriak Sita dari ruang makan memanggil kedua putrinya. “Nanti buburnya dingin lho”. “Mama dan Papa sudah di ruang makan nih” tambahnya.
“Iya, Ma..” jawab kedua putrinya bergantian.
Setelah semuanya klop berkumpul di meja makan, suasana kekeluargaan sangat hangat terasa. Ditambah dengan canda dan gurau di pagi hari yang semakin menambah hangatnya pagi itu.
“Mia, nanti Ujian nya sukses yah.” Hermawan menyemangati putrinya yang duduk di bangku SMA itu.
“Pasti, Pa. Mia pasti melakukan yang terbaik.”
“Anak Papa pasti bisa dong.” Ujar Hermawan sambil mengelus-elus gemas kepala Mia. Mia yang merasa rambutnya menjadi berantakan, langsung memasang muka kecut. Hermawan tertawa geli. Melihat sang kakak, si bungsu Chika yang merasa ingin diperhatikan, segera angkat bicara.
“Chika enggak Pa?” tanyanya dengan muka mewek.
“Chika juga, makanya rajin belajar biar jadi juara kelas seperti kak Mia ya.” Ujar Hermawan.
“Makanya jangan baca komik terus Chik!” Mia menimpali. Semua tertawa melihat ekspresi Chika yang semakin bertambah mewek dan sebal dikatai seperti itu oleh kakaknya. Beginilah suasana pagi dikeluarga Hermawan. Selalu riang dan harmonis.
ŸŸŸ
            SMA Bonavita, tempat Mia bersekolah adalah sekolah yang elit. Rata-rata para siswanya memiliki latar belakang social yang tinggi. Mobil yang mengantar jemput pun kebanyakan keluaran kelas satu! Tetapi, pemandangan seperti itu sudah biasa di mata Mia. Dia tidak ambil pusing dengan keadaannya sekarang. Ia sangat menkmati dan mensyukuri apa yang ia dapat. Cantik, pandai, dikenal semua kalangan siswa dan guru. Ditambah lagi pacarnya, Radit yang merupakan cowok populer dikalangan para siswa. Lengkap sudah semuanya.
            “Mia, nanti sukses ya ujian akutansinya.” Radit menyemangati.
            “Pasti Honey.” Mia tersenyum manyun. Radit yang gemas melihatnya, mencubit pipi Mia yang mulus hingga memerah. “Aduh ! sakit tau..”desis Mia. Keduanya tertawa ringan.
            Dari kejauhan terdengar suara teman-teman Mia yang berjalan hendak menghampiri mereka berdua. Desti, Nana, Chyntia dan Seila yang selalu ada disamping Mia. Mereka berlima selalu kemana-kemana bersama. Dari jalan-jalan, shopping, menonton, dan sebagainya. Rasanya tidak ada yang kurang untuk Mia
ŸŸŸ
            Disaat yang bersamaan, di kediaman keluarga Hermawan yang damai itu serasa diterpa badai hebat. Sebuah berita buruk melayang kearah mereka. Saat itu telephone berdering di ruang tamu . Dengan sigap , Sita mengangkat telephone itu. Ekspresi wajahnya tiba-tiba pucat pasi. Bola matanya kosong. Tatapannya melayang entah kemana. Ditutupnya gagang telephone dengan tangan gemetar . Badannya seketika lemas tak berdaya. Suaminya, Hermawan, mendekam di tahanan.
ŸŸŸ
            Di kantor Polisi, Sita tampak tak percaya suami tercintanya mendekam di tahanan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan mata yang berkaca-kaca. Sita tampak tak kuasa melihatnya. Ia hanya menangis tersedu-sedu ditemani si bungsu Chika. Mia yang melihat keadaan ayah tercintanya dibalik jeruji itu tampak tersulut rasa curiga dan keganjilan dari hal ini. Hermawan diberi kesempatan berbicara sebentar kepada keluarganya. Ia menjelaskannya kepada Mia. Berharap Mia mengerti atas kejadian yang menimpanya.
            “Mia anakku..”tatap Hermawan sendu. “Papa dijebak oleh seseorang yang menginginkan Papa lengser dari jabatan Papa. Papa difitnah Mia….Papa dituduh menggelapkan uang perusahaan.”
            Mia hanya diam seribu bahasa dan menitikkan air mata. Ia mendengarkan penjelasan ayahnya panjang lebar dan menyimaknya dengan seksama. Mia tidak menyangka badai yang begitu dahsyat ini menghantam bathin nya yang semakin terkoyak. Ia tak tahu harus berbuat apa.
ŸŸŸ
            Sepulangnya dari kantor polisi, Mia pulang tanpa kehadiran sang ayah. Hanya kesedihan yang ia bawa. Sita tak henti-hentinya meratapi nasib suami dan keluarganya. Chika ikut tersedu-sedu melihat ibunya begitu sedih. Kesedihannya tak sampai disana ketika melihat seisi rumah yang barang-barangnya mulai dipindahkan ke mobil pick up. Salah satu petugas itu menjelaskan mengapa barang – barang dirumah ini dikemas.
            “Maaf  Bu, rumah Ibu terpaksa kami gadaikan karena kasus yang membelit suami Ibu.” Jelas petugas itu singkat dan padat. Seketika itu juga Sita pingsan tak berdaya. Mia dan Chika panik. Sekarang mereka tidak punya tempat tinggal. Tetapi, Mia bertekad mencarikan tempat tinggal yang bisa dijadikan tempat bernaung untuk sementara. Mereka mendapati sebuah kontrakan yang cuup sempit tapi cukup untuk sisa uang yang mereka miliki.
            Keesokan paginya, Chika ngambek tidak mau sekolah. Dia tidak mau pergi kemana-mana dengan kondisi seperti ini. Mia kewalahan membujuk adiknya. Si Ibu hanya meratapi tingkah laku anaknya dengan sendu. Seakan tak tahu harus berbuat apa. Seakan depresi sedang menggerogoti dirinya. Mia harus tegar dan tabah. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sekolah sendiri. Sesamppainya disana, Mia mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Orang – orang menatapnya dengan muka sinis dan penuh curiga. Dia tahu bahwa mereka membicarakan masalah yang menimpanya saat ini. Berita dari mulut ke mulut telah beredar luas kemana-mana. Terbesit dipikirannya untuk menemui Radit, kekasihnya. Berharap Radit memberinya dukungan dan semangat dari masalah yang sedang dideranya. Dicarinya Radit ke kelasnya.
            “Dit, aku..” belum sempat ia berbicara, Radit memotongnya dengan gusar.
            “Pergi kamu ! Dasar anak koruptor! Tidak tahu malu !!” Radit geram. “Kita putus!!”
            Seperti ditimpa beban 1000 ton. Dadanya sesak sekali. Mia tidak percaya bahwa Radit sekejam itu. Bahkan tidak memberikan kesemptan bagi dirinya untuk berbicara. Batinya terkoyak. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sakit. Itulah yang ia rasakan. Mia berpaling kearah pintu keluar diiringi seruan-seruan dan caci maki atas dirinya.
            Mia tidak hilang akal, ia berinisiatif menemui sahabat-sahabatnya. Sahabat pasti jauh lebih mengerti daripada seorang kekasih. Niatnya mencari mereka, ternyata mereka sudah terlebih dlu menampakkan diri didepan Mia. Mata Mia berbinar melihat sahabat-sahabatnya datang seperti hujan di kemarau panjang.
            “Oh..jadi ini ya anak koruptor?” Chyntia membuka pembicaraan.
            “Bikin malu aja !” timpal Nana.
            “Guys, kita gausah temenan sama anak koruptor dan sekarang jatuh miskin ini. Dia udah melarat dan tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.” Seila menghantamkan kata-kata yang menyayat hati Mia lebih dalam.
            “Kalian….” Mia berkaca-kaca. Seketika saat itu juga teman-temannya pergi menjauhinya. Desti hanya menatap sahabatnya dengan iba tanpa berkata sepatah kata. Ia tahu Mia tidak seburuk itu. Desti menaruh simpati pada Mia.
            Tidak hanya pengkhianatan dari kekasih dan sahabatnya. Hari ini juga Mia mendapat surat drop out dari sekolahnya. Alasannya, takut SMA Bonavita yang elit dan terpandang itu tercoreng namanya karena menganggap masalah Mia ini aib yang bahaya bagi reputasi sekolah . lengkap sudah rasanya. Mia harus lebih lapang dada menghadapi kenyataan .Tidak hanya dikeluarkan, sekarang kondisi ibunya semakin memburuk. Badannya semakin kurus dan kantung matanya berwarna hitam. Mukanya pucat. Pikirannya entah kemana. Hanya bisa berbaring lemah diranjang seadanya. Chika merawat ibunya dengan penuh kasih sayang.
            Masalah terbesar saat ini adalah uang. Sebagai anak tertua, ia harus bisa menghidupi ibu dan adiknya agar bisa makan setiap hari. Akhirnya Mia memutuskan bekerja serabutan.. Mulai dari mencuci baju tetangga-teangga, mengantarkan pesanan, hingga menjadi kuli di pasar. Begitu besar kegigihan dan kerja kerasnya. Hingga pulang larut sekalipun tak ia hiraukan demi sepeser uang. Chika pasti selalu menunggu kakaknya pulang dari kerja didepan kontrakkan.
            “Horee..Kak Mia pulang!” teriak Chika riang.
            “Ssst..jangan keras-keras. Nanti Mama terbangun. Mama sudah makan?”
            “Sudah.” Jawab Chika mantap. Keseharian ini terus berulang sampai pada akhirnya Mia berani memutuskan untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan kecil jasa pengiriman barang. Hanya berbekal ilmu yang ia dapat semasa waktu sekolah dan kecerdasannya tanpa ragu ia mencoba peluang . Bahkan ia mau ditaruh dibagian paling bawah sekalipun. Mia bekerja dengan gigih dan ulet. Banyak yang senang dengan hasil kerjanya. Karena berhasil merebut perhatian direktur perusahaan itu, Mia sedikit demi sedikit meranjak dai posisinya yang paling bawah hinga naik setingkat demi setingkat. Hebat memang. Ia bersyukur masih diberi kecerdasan yang bisa dijadikan penyambung hidup keluarganya.
ŸŸŸ
            Suatu malam, Sita terjaga dari tidurnya. Ia berniat meraih segelas air putih disebelah ranjangnya. Ia tidak haus. Hanya ingin menenangkan diri dari mimpi buruk yang tengah ia alami dalam tidurnya. Tangannya yang renta berusaha meraih tepian meja dan gelas yang cukup jauh untuk dijangkau bagi dirinya. Akibtnya, ia terjatuh dari ranjang dan kepalanya terbentur lantai hingga tak sadarkan diri. Mendengar suara dentuman yang keras, Mia dan Chika ikut terjaga. Mereka menyadari arah suara dan mendapati ibunya tersungkur ke tanah. Secepat kilat ibunya dibawa ke rumah sakit terdekat.
            Mia mondar mandir tidak karuan karena gelisah. Sedangkan Chika tertidur di kursi ruang tunggu. Betapa terkejutnya Mia ketika dokter keluar dengan raut muka yang tidak ingin ia harapkan.
            “Saudara Mia…Berlapang dadalah.Beliau telah beristirahat dengan tenang..”
            Sekali lagi, dentuman itu bagai 1000 pisau yang menancap di bathinnya. Ia harus merelakan Ibunda tercinta menghadap Sang Kuasa. Tak terasa air mata mengucur deras di pipi mulusnya. Ketegarannya sedang diuji.
ŸŸŸ
            Kerumunan orang berbaju hitam yang melayat mulai berkurang satu persatu. Suasana di pemakaman itu mendadak sunyi senyap. Mia dengan tegar menghadapi kenyataan berbeda dengan Chika yang terus menggeluti nisan almarhum ibunya. Dari kejauhan terdengar suara nan lembut memanggil namanya. Suara yang sudah lama ia rindukan . yang sempat menghilang bertahun-tahun.
            “Mia..Chika..” kata seorang lelaki paruh baya bertubuh kurus dan rambut ubanan. Renta sekali. Keduanya menoleh secara bersamaan . Lelaki itu..
            “Papa !!” teriak Chika histeris tak percaya. Pecahlah isak tangis Chika yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Dipeluknya ayahnya satu-satunya. Penampilannya terlihat kusut. Sorot matanya menyiratkan penyesalan yang amat mendalam dan tak bisa terobati. Mia dan Chika berpelukan dalam dekapan ayahnya.
            Kini, mereka harus bertahan dei kelangsungan hidupnya. Mia bekerja keras dan focus pada perusahaan tempatnya bekerja. Hermawan mendapat titik terang dari kasus yang sempat menjatuhkannya dalam lumpur kesengsaraan. Ia sedikit demi sedikit mendapatkan kembali kepercayaan dari orang-orang terdekatnya. Dan Chika, bisa mengenyam pendidikan lagi ke tinkat yang leih tinggi.